Monthly Archives for June 2008

Ketika Singa Oranje Tumbang

Well, setelah mendapat pujian dari seluruh Eropa karena permainan menyerang yang indah, dan sempat menelan 3 tim hebat, akhirnya Belanda tumbang dari Rusia pada pertandingan Quarter Final hari Minggu dini hari yang lalu.

Dan gw yang sudah menjadi fans berat Belanda sejak tahun 1988 (merekalah yang membuat gw menggandrungi sepakbola) menjadi saksi ketika Tim Belanda yang bermain tanpa gairah menjadi bulan - bulanan tim Rusia yang ironisnya dilatih oleh Guus Hiddink, salah seorang pelatih Top Belanda. Gosh, padahal seluruh Eropa menyangka kali ini adalah giliran Belanda untuk menjuarai Euro. Sekitar lebih dari 100an fans belanda yang menonton pertandingan itu di arena nonton bareng di Summarecon Mall Serpong, merasa kecewa dan sedih melihat kekalahan Belanda itu.

Dan setelah menonton pertandingan itu, gw merasa sedih banget, dan tiba - tiba gw merasa sakit dan lemas seluruh badan. Pengen nangis, tapi malu (he3x) Gini nih kalo syndrom “akibat belanda kalah” kambuh.

Hm, Euro sudah selesai buat gw.

Membangkitkan Energi "Marah"

Membaca tulisan dari Hidayat Nurwahid di salah satu harian ibu kota tentang bagaimana “marah” itu bisa ditransformasikan menjadi sesuatu yang bisa memotivasi kita untuk mencapai sesuatu, gw jadi tertarik untuk menulis tentang topik yang sama, based on my perception.

Well, “marah” itu bisa dibagi menjadi dua. Yaitu marah yang bisa membuat kita melakukan sesuatu yang kontraproduktif atau malah “marah” yang bisa memotivasi kita. Hm, itu menjadi pilihan kita walaupun kenyataannya kita, termasuk gw, masih sering terjebak dalam “marah” yang kontraproduktif.

Marah yang kontraproduktif bisa bermula dari hal - hal yang sepele, seperti ledekan dll. Dulu di kampus gw, pernah terjadi perkelahian hebat antara Mesin dan Elektro gara - gara pertandingan bola. Dan hasilnya? Ada seorang mahasiswa Mesin yang akhirnya meninggal gara - gara tawuran massal itu dan berimbas sehingga teman2 dari Elektro ngga bisa tenang berkuliah dalam kurun waktu hampir 1 tahun.

Lho “marah” yang bisa memotivasi kita itu marah yang kaya gimana? Gini, gw kasih satu ilustrasi:

Ketika kita dilecehkan oleh seseorang karena status sosial, ras, dll, kita bisa memilih untuk marah atau malah menjadikan itu menjadi salah satu motivasi kita untuk lebih baik dari orang yang melecehkan kita tersebut. Ketika Samuel Eto’o seorang bintang sepakbola dari Kamerun yang bermain di FC Barcelona mendapatkan ejekan yang bernada rasis pada suatu pertandingan di kandang klub lawan, yang dia lakukan adalah aktif bergabung di kampanye anti rasisme dalam sepakbola dan membungkam para pengkritiknya itu dengan gol - gol yang dia buat. Dalam satu pertandingan, ketika dia berhasil membuat satu goal ke gawang lawan yang selama ini banyak melecehkannya. Dia malah merayakan gol tersebut dengan bergerak seperti (maaf) seekor monyet, hm membalas pelecehan yang kita terima dengan sesuatu yang kongkrit jauh lebih bernilai, bukan?

Ketika dalam perjalanan kami membangun perusahaan ini, ngga sedikit kata - kata negatif yang gw terima. Namun gw terus bertekad untuk someday membuktikan bahwa apa yang selama ini mereka katakan itu salah! Dan salah besar kalo dengan kata - kata negatif itu bisa membuat gw mundur, dan patah semangat. Justru hal itu adalah salah satu motivasi gw untuk meraih kesuksesan, amiin.

Total Football is Back

Siapapun yang menonton dua pertandingan Belanda saat melawan Italia kemudian Perancis pasti akan tersihir dengan permainan sempurna dari Total Football ala Belanda. Pola menyerang total yang dimodifikasi oleh racikan Van Basten menghasilkan permainan menyerang yang sangat menggairahkan tapi di dukung oleh pertahanan yang kuat. Formasi tradisional 4 - 3 - 3 di sempurnakan menjadi 4 - 2 - 3 - 1 yang lebih kokoh dalam pertahanan. Dan terbukti Belanda melibas Juara Dunia Italia dengan skor 3 - 0 dan Runner Up Piala Dunia, Perancis dengan skor 4 - 1, what a score isn’t it? Apalagi kedua tim yang dihadapi Belanda itu bukan tim sembarangan.

Well, gw adalah fans berat tim Oranye Belanda sejak tahun 1988 ketika mereka menjuarai Euro 88 di Jerman. Ketika itu Belanda dengan pemain seperti Van Basten (yang kini jadi Pelatih Belanda), Ruud Gullit, Rijkaard, Koeman bersaudara, dll memperagakan reinkarnasi Total Fotball yang lebih konkret dari Total Football ala Johan Cruyff pada Piala Dunia 1974. Kenapa lebih kokret? Karena ketika pada tahun 1974, Pola Total Football hanya berhasil mencapai posisi Runner Up Piala Dunia, pada Euro 1988 Total Football yang diperagakan generasi baru tim Oranye berhasil mempersembahkan trofi juara Euro yang menjadi satu - satunya trofi internasional yang berhasil diraih Belanda.

Setelah 20 tahun partisipasi Belanda di Piala Dunia dan Euro dari tahun ke tahun yang hanya mampu memberikan pertunjukan sepakbola yang memikat tapi tanpa gelar, sekaranglah saat yang tepat untuk kembali menjuarai satu turnamen besar, Euro 2008. Perjalanan menuju kesana memang masih jauh dan berliku, tapi jika Belanda bisa bermain seperti saat melawan Italia dan Perancis maka tim manapun pasti akan bisa dilibas.

Hup..hup..Holland