Tung Desem Waringin, salah satu motivator favorit saya pernah menyampaikan di seminarnya bahwa PENTING supaya kita selalu mempunya visi, misi, goal, dream yang tertulis. Kenapa musti tertulis? Karena dengan tertulis itulah alam bawah sadar kita akan terus menerus mengingat impian yg ingin kita capai. Dan ternyata ketika saya baca buku Financial Revolutionnya TDW, orang yang mempunyai impian tertulis itulah yang akan menjadi orang sukses. Dan itu menurut survey loh.
Well, i want to share pengalaman saya selama ini. Dua tahun terakhir, saya selalu menulis resolusi2 setiap menyambut tahun baru secara tertulis. Selain saya juga mempunyai impian hidup yang saya rangkum dalam 101 things to do before I die. Dan Alhamdulillah sebagian besar resolusi saya itu terwujud. Contoh resolusi saya misalnya ketika di akhir tahun 2007, saya menulis saya ingin supaya perusahaan saya bisa mendapatkan omzet sebesar …… (rahasia hehe) dan eh ternyata terwujud, pun di akhir tahun 2008 saya menulis resolusi omset perusahaan saya adalah sebesar ….. dan alhamdulillah terwujud, malah melebihi angka yang saya tulis . Selain itu ada beberapa resolusi 2008 lainnya yang terwujud di tahun 2009 ini, seperti misalnya saya bisa lanjut kuliah S2, traveling ke beberapa negara dll dll. Alhamdulillah
Continue Reading »
Well, I’ve been in this business for almost 5 years. Quite a lot time huh? Banyak suka duka yang saya alami selama saya di Jakarta dan teman saya di Surabaya merintis bisnis ini. Awalnya saya merintis perusahaan ini dengan berdarah - darah, karena kami memulai bisnis ini hanya bermodalkan tekad yang kuat, motivasi yang tinggi, koneksitas berkat jaringan yang kami bangun serta tentu wawasan tentang dunia yang kami geluti ini. Modal uang? Nyaris ga ada, saya di Jakarta hanya bermodalkan 50 ribu yang cukup untuk membeli stempel perusahaan dan kartu nama. Berkantor di kamar di rumah dinas orang tua saya di Puspiptek, Komputer milik sendiri sejak jaman kuliah ditambah akses internet gratisan (thanks to Puspiptek atas kebaikannya hehe). *Ini untuk mematahkan paradigma bahwa setiap usaha itu butuh modal finansial.
Dulu, waktu pertama kali semua pekerjaan saya yang mengerjakan. Dari mulai mencari klien, menyiapkan pelaksanaan training sampai menagih pembayaran. You can Imagine, i’m the owner, branch manager Jakarta (waktu itu), sekaligus juga sales, finance merangkap operasional hehe. Kalo ada training yang harus di organize, saya musti bangun pagi2 buta untuk bisa berangkat ke tempat pelaksanaan di satu hotel di Jakarta Barat, secara rumah orang tua saya di daerah Serpong. Kemudian ketika mulai punya uang, saya mulai merekrut karyawan. Mulai dari satu orang yang bantu saya dalam segala hal, kemudian sedikit2 bertambah sesuai kebutuhannya.
Continue Reading »