Home » Resensi

Lesbianism is double sexy

If woman is a sexy creature, so lesbianism is double sexy!

So What’s your opinion about lesbianism?

Well, salah satu jawaban tentang itu bisa dilihat di film ini, “Kissing Jessica Stein “ versi DVD yang baru aku beli hari minggu kemarin. Film ini menceritakan dua alasan yang berbeda kenapa sepasang wanita akhirnya memilih untuk menjadi lesbian.

Jessica Stein (Jennifer Westfeldt), twenty something woman, adalah seorang wanita karir yang sukses dan hidup di kota megapolitan New York. Tapi walau begitu dia masih memegang tradisi yang kuat sebagai seorang Yahudi yang taat dan konservatif. Jessica beberapa kali mengalami kegagalan dalam usahanya mencari pasangan hidupnya. Berkali – kali kencan yang dilakukannya bersama beberapa pria selalu gagal karena mereka tidak memenuhi ekspektasinya terhadap seorang pasangan hidup.

Suatu saat dia bertemu dengan Helen (Heather Juergensen), thirty something, seorang art gallerist. Helen digambarkan seorang yang mempunyai libido berlebih dan selalu bergairah. Dia mempunyai hubungan dengan beberapa pria sekaligus, untuk bersenang – senang dan sex. Hubungan mereka berdua semakin lama semakin klik, karena banyak hal yang diinginkan dari seorang pasangan ideal ada di diri Helen. Bahkan akhirnya hubungan mereka meningkat menjadi lebih intim dan ada sex didalamnya. Terlihat, Jessica memilih untuk menjadi lesbian karena dia membutuhkan seseorang untuk bisa mendampingi dia sebagai pasangan dan dia tidak mendapatkan itu dari seorang pria, sedangkan Helen memilih menjadi Lesbian untuk mendapatkan variasi lain dalam kehidupan sexnya.

Pada awalnya Jessica menutupi hubungan mereka, karena dia berasal dari keluarga yahudi yang taat dan konservatif. Tapi akhirnya Ibunya dapat mencium hubungan mereka itu dan surprisingly dia merestui Helen untuk masuk sebagai anggota keluarga mereka. Dan sejak itu lah Jessica dan Helen menjadi lebih terbuka dengan hubungan mereka. Bahkan akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Walau hubungan mereka terlihat baik dalam segala hal, tapi kehidupan sex mereka tidak bergairah. Jessica masih belum sepenuhnya menikmati hubungan mereka, sedangkan Helen membutuhkan keintiman lebih.

Akhirnya hubungan itu harus berakhir ketika Helen memutuskan untuk mengakhirinya. Jessica sempat patah hati tapi akhirnya dia menyadari jika sebenarnya dia mencintai Helen as a friend and not a lover. Dan setelah hubungan mereka berakhirpun, mereka tetap bisa berteman baik.

Hm, film yang ringan walau pada awalnya berjalan begitu lambat. Namun film ini bisa memberikan kita pandangan lain tentang homosexual dan lesbianism.

Popularity: 1% [?]

Share/Bookmark this!

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally recognized avatar, please register at Gravatar.

Side Notes

This entry was posted by indrakurniadi on December 4, 2007 at 10:53 am and filed under Resensi category.

You can add your comments or trackback from your own site. To keep you updated to the latest discussion, you can subscribe to these comments via RSS.

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally recognized avatar, please register at Gravatar.

Tulisan Terbaru

Komentar Pengunjung

Categories

Arsip Tulisan Lama

Find me on Facebook

Follow me

twitter_indrakurniadi

Me vs the World

mejeng di view pointDSC06170mejeng bareng obamamejeng di senado square

Indra Kurniadi is

Proud to be an entrepreneur, a blogger,traveler and football addict :) Yeaaah