Monthly Archives for November 2008

Anak Kecil itu Menginspirasi

Kemarin pagi, waktu mau turun dari kamar gw di lantai 4 Hotel Jayakarta Bandung menuju lantai dasar tempat training kami berlangsung, gw ketemu dengan satu keluarga kecil dengan satu anak yang keliatannya akan mengakhiri liburan mereka di Bandung.

Hm, yang menarik perhatian gw dalam pertemuan kami beberapa saat itu adalah keberadaan sesosok wanita cilik yang begitu lucu, baik tingkah laku dan celoteh - celotehnya. Asli, hal itu membuat gw untuk pertama kalinya dalam 28 tahun hidup dunia, pengen banget punya anak. Membayangkan jika gw punya sesosok indra cilik yang mewarisi banyak hal yang ada dalam diri gw atau sesosok anak wanita cantik yang mewarisi kecantikan ibunya. Gosh, mungkin ini satu peringatan dari Allah supaya gw lebih serius dan lebih gigih lagi dalam mencari calon istri? Kata orang jodoh ngga kemana, tapi akan lebih mudah dan cepat jalannya apabila kita sendiri juga berusaha dan tidak pasif. Mudah2an ini juga pertanda gw bakal ketemu sesorang yang akan menjadi istri gw, ibu dari anak2 gw dan soulmate gw, amiin.

Anak kecil itu begitu menginspirasi, sungguh.

Black Book (Zwartboek)

Hari selasa lalu, gw jalan ke Paris Van Java Mall di Sukajadi untuk nonton film di Blitz. Setelah liat2 poster film + baca resensinya, gw tertarik untuk nonton film Black Book (Zwartboek) sebuah film Belanda yang konon adalah film Belanda terlaris di tahun 2006. Oia, gw pengen sharing buat kalian yang masih jomblo tapi hobi nonton film di bioskop. Tips gw, supaya ngga keliatan kalo gw cuma nonton sendirian, dimana mayoritas orang di bioskop nonton bareng pacar atau teman. Gw selalu pilih untuk duduk disebelah bangku yang sudah terisi. So, gw akan terlihat seakan2 nonton bareng mereka, he3x. Penting banget ga? buat gw sih penting, soalnya rada aneh juga gitu kalo nonton sendirian dibioskop. Hm, i just dont like to be seen as “pathetic single” he..he

Anyway, back to the movie. Film ini bercerita tentang kisah seorang wanita, Jewish, yang bernama Rachel (Carice van Houten) di era pendudukan Nazi Jerman di Belanda pada perang dunia II. Diceritakan ketika pada masa pendudukan itu, kaum Yahudi di Belanda berlomba - lomba untuk lari ke wilayah yang lebih aman di bagian Selatan Belanda. Rachel dan keluarganya berencana hal yang sama dengan bantuan Smaal (Dolf de Vries) seorang lawyer. Namun ternyata ditengah perjalanan, tentara SS Nazi Jerman membunuhi seluruh penumpang kapan tsb dan merampas harta mereka. Rachel selamat dan menyadari bahwa semua itu adalah jebakan.

Rachel kemudian bergabung dengan kaum pemberontak Belanda dan ditugaskan untuk menyusup ke markas tentara Jerman di Den Haag. Dia kemudian menggoda Ludwig Müntze (Sebastian Koch) dan menjadi kekasihnya. Di markas itu pula, Rachel mengenali Günther Franken (Waldemar Kobus) yang menjadi pemimpin pasukan yang membunuh keluarganya. Rachel malah jatuh cinta dengan Muntze sampai akhirnya Muntze mengetaui tentang penyamaran Rachel dan mencoba menggali informasi tentang aksinya itu. Rachel menceritakan tentang kisah pelariannya dan memberitahu tentang aksi Gunther yang merampas harta para pengungsi yahudi. Muntze jatuh simpati dan kemudian melaporkan aksi Gunther kepada atasannya General Käutner (Christian Berkel) untuk memeriksa lemari besi yang ada di ruangan Gunther yang diduga sebagai tempat menyimpan harta tersebut. Tapi kemudian tidak terbukti, dan Muntze malah kemudian ditangkap dengan dakwaan bekerjasama dengan kaum pemberontak.

Saat yang bersamaan, beberapa orang dari kaum pemberontak di tangkap tentara NAZI dan dimasukkan kedalam penjara. Kemudian kaum pemberontak merencanakan pembebasan mereka dan Rachel juga bertugas untuk melancarkan jalan untuk masuk ke gedung penjara dengan imbalan Muntze ikut dibebaskan. Pembebasan itu gagal, dan hampir semua pasukan pemberontak dan para tahanan terbunuh. Rachel kemudian ditangkap. Namun tidak lama, berkat bantuan temannya, dia bisa melarikan diri bersama Muntze.

Ketika Belanda terbebas dari penjajahan Jerman, Rachel ditangkap atas dakwaan sebagai pengkhianat dan Muntze akhirnya di eksekusi mati. Rachel diselamatkan oleh Hans Akkermans (Thom Hoffman) yang ternyata adalah terlibat dalam pembunuhan kaum Yahudi. Hans juga mencoba membunuh Rachel dengan menyuntikkan insulin secara berlebihan. Tapi Rachel selamat dengan memakan coklat.

Rachel kemudian membuktikan bahwa dia bukan pengkhianat dengan menunjukkan buku yang ditulis secara detail oleh Smaal. Buku tsb diberikan oleh Smaal sesaat sebelum terbunuh, ketika Rachel mencari Smaal karena dia curiga atas keterlibatan Smaal dalam pembunuhan kaum Yahudi.  Dengan  bukti itulah,  Rachel bersama  Kuipers berhasil menangkap Hans. Setelah semua itu, Rachel kemudian pergi ke Israel dan memulai hidup baru disana.

Business Keluarga

Sedih rasanya ngeliat keluarga besar gw pecah gara - gara perselisihan bisnis diantara om - om dan tante gw. Potret keluarga besar nan harmonis, dan penuh canda tawa hilang seketika. Ikatan darah diantara mereka menjadi ngga berarti. Ini berawal ketika ada 2 orang adiknya mama memutuskan untuk berbisnis bersama, dan di awal pendirian perusahaan itu mereka tidak memperhatikan aspek hukum sama sekali, seperti perjanjian notaris dsb, mereka terlalu percaya kepada ikatan darah diantara mereka. Nyatanya sekarang? Perpecahan malah semakin meluas dan melibatkan sebagian anggota keluarga besar lainnya.

Gw sangat prihatin dengan kondisi ini. Kasian jg dengan Oma, orang tua mereka sekaligus nenek gw tercinta. Di masa tuanya yang seharusnya bisa menikmati ketenangan hidup, malah ikut stress melihat anak - anaknya bertikai. Saat ini, ada pihak ketiga yang mencoba menyelesaikan ini semua. Tapi itu hanya bersifat administratif saja, yaitu bagaimana pembagian harta perusahaan tsb. Dan tidak menyentuh aspek perdamaian diantara saudara kandung.

Sedih banget, semoga ada keajaiban. Hikmah terbesar yang bisa gw dapet adalah ketika kita membuat satu bisnis dengan siapapun itu, mau teman akrab atau saudara kandung sekalipun, sebaiknya tetap ada perjanjian tertulis hitam diatas putih. We never knew what happen in the future. Dan itu bukan berarti kita tidak percaya kepada ikatan darah ataupun ikatan persahabatan, tapi justru memperkuat rasa saling percaya dan memberikan keyakinan bahwa semua pihak mempunyai itikad yang baik, isn’t it?